Koeno.Id — Sejarah kemandirian moneter Indonesia menyimpan cerita menarik tentang kolaborasi lintas bangsa. Salah satu kisah legendaris tertuang dalam buku Haarlemmers onder de tropenzon karya Jan de Roos. Buku ini merekam jejak belasan pekerja spesialis asal Haarlem Belanda yang bermigrasi ke Jakarta pada dekade 1950-an. Misi utama mereka adalah mengawal pencetakan instrumen pembayaran premium Indonesia. Instrumen berharga tersebut adalah Uang Kertas 10 Rupiah 1952 Seri Kebudayaan.
Alih Teknologi Cetak Sekuritas di Tanah Air
Pemerintah Republik Indonesia saat itu baru saja mendirikan fasilitas pabrik Pertjetakan Kebajoran N.V. Namun industri dalam negeri yang baru berdiri belum menguasai teknologi pengamanan cetak sekuritas tingkat internasional.
Manajemen perusahaan legendaris Joh. Enschedé en Zonen akhirnya mengirim sedikitnya 18 pekerja spesialis beserta keluarga mereka ke Jakarta. Langkah berani ini bertujuan untuk menjamin kualitas cetakan lokal agar identik dengan standar pabrik pusat di Eropa.
Edukasi Teknik dan Transmisi Ilmu kepada Pekerja Lokal
Para ekspatriat Belanda ini memikul tanggung jawab besar selama menetap di bawah matahari tropis Jakarta. Mereka tidak sekadar mengawasi jalannya mesin cetak intaglio yang rumit.
Tugas suci para pekerja ini adalah mentransfer pengetahuan teknis secara masif kepada ribuan pekerja lokal Indonesia. Mereka mengajarkan seluk-beluk pemeliharaan mesin cetak, peracikan tinta khusus, hingga proses kendali mutu yang sangat ketat.
Adaptasi Budaya dan Fondasi Kemandirian Peruri
Proses interaksi budaya pun berjalan secara alami di lingkungan Kebayoran. Para pekerja spesialis asal Haarlem ini perlahan mulai menyatu dengan gaya hidup masyarakat setempat.
Mereka mulai menggemari kuliner khas Nusantara seperti nasi campur, sate bumbu kacang, hingga hidangan rijsttafel. Hubungan emosional yang hangat ini berhasil mempermudah proses transfer ilmu cetak yang sangat sensitif bagi masa depan moneter republik.
Nasionalisasi dan Warisan Sejarah yang Abadi
Meskipun kontrak kerja sama hibrida ini awalnya dirancang untuk sepuluh tahun, pergolakan politik nasional mengubah rencana tersebut. Presiden Soekarno mengambil kebijakan untuk menasionalisasi penuh fasilitas Pertjetakan Kebajoran pada tahun 1958.
Hal tersebut memaksa para pekerja Haarlem kembali secara mendadak ke Eropa. Namun dedikasi mereka dalam memproduksi Uang Kertas 10 Rupiah 1952 Seri Kebudayaan telah meletakkan fondasi kuat bagi berdirinya Perum Peruri.
