Koeno.Id — Pemerintah Republik Indonesia mengesahkan kebijakan penarikan uang emisi lama pada era revolusi fisik. Kebijakan moneter ini bertujuan untuk menata kembali sirkulasi mata uang di tanah air. Langkah strategis ini memicu persaingan sengit antara Oeang Republik Indonesia (ORI) dan uang kolonial.
Kedua mata uang bersaing ketat dalam merebut kepercayaan masyarakat luas. Penerbitan emisi ORI I pada bulan Oktober 1946 menandai tonggak kedaulatan ekonomi nasional. Pemerintah Republik Indonesia mengedarkan ORI I sebagai alat pembayaran yang sah.
Pada saat bersamaan, De Javasche Bank merilis uang pecahan 5 Roepiah/Gulden 1946 Seri Federal I. Otoritas Belanda menerbitkan emisi ini untuk mempertahankan dominasi ekonomi mereka. Kehadiran dua mata uang ini menciptakan persaingan moneter yang sangat tinggi.
Jejak Sejarah Uang 5 Roepiah/Gulden 1946
Desain dan Fitur Keamanan Modern
Belanda merancang uang 5 Roepiah/Gulden 1946 untuk meredam pengaruh ORI di masyarakat. Percetakan Royal Joh. Enschedé memproduksi emisi ini dengan teknologi canggih.
- Pembuat uang menambahkan fitur tanda air sarang lebah pada serat kertas.
- Perancang mencantumkan teks ganda dalam bahasa Indonesia dan bahasa Belanda.
- Teks tersebut berbunyi “Membajar Kepada Pembawa Lima Roepiah” dan “Vijf Gulden”.
- Taktik kompromi bahasa ini bertujuan agar masyarakat pedesaan menerima sirkulasi uang tersebut.
- Seniman menggunakan motif ilustrasi bunga teratai sebagai simbol kebangkitan lokal.
- Otoritas mencetak uang ini dalam dua varian utama yaitu warna ungu dan cokelat.
Kebijakan Sanering dan Dampak Numismatik
Pejuang kemerdekaan tetap memilih ORI I sebagai bentuk perlawanan terhadap penjajah. Masyarakat terus menggunakan ORI I dalam transaksi harian di daerah gerilya. Pihak otoritas akhirnya menarik uang emisi lama dari sirkulasi pasar secara bertahap.
- Persaingan mata uang ini melahirkan kebijakan sanering Gunting Syafruddin pada Maret 1950.
- Peraturan ini mewajibkan rakyat memotong lembaran uang kertas nilai tinggi menjadi dua bagian.
- Kebijakan ini memusnahkan mayoritas spesimen 5 Roepiah/Gulden 1946 di pasaran.
- Petugas menarik potongan bagian kanan untuk pertukaran surat obligasi negara.
- Pasar numismatik internasional kini sangat memburu keberadaan lembaran utuh yang selamat.
- Kolektor uang kuno terus mencari varian warna cokelat maupun ungu di berbagai lelang.
- Spesimen utuh tanpa bekas guntingan menjadi bukti sejarah perjuangan kedaulatan moneter Indonesia.
