Kabar UtamaSejarah

Mengapa Peringatan Hari Oeang Republik Indonesia Sangat Penting Bagi Kita

133
hari oeang republik indonesia

Koeno.Id — Pada dasarnya, masyarakat memperingati Hari Oeang Republik Indonesia (HORI) setiap 30 Oktober sebagai momentum sejarah penting. Momen ini menandai lahirnya simbol kedaulatan politik dan kemandirian finansial bangsa Indonesia. Sebab, kehadiran Oeang Republik Indonesia (ORI) menjadi tonggak awal pertahanan ekonomi di tengah kekacauan pasca-proklamasi.

Kekacauan Moneter Pasca-Proklamasi

Setelah merdeka pada 17 Agustus 1945, Indonesia tidak langsung memiliki mata uang sendiri. Berdasarkan Maklumat Pemerintah 3 Oktober 1945, pemerintah terpaksa mengakui empat mata uang asing demi mencegah kemacetan transaksi harian. Pengakuan ini mencakup mata uang De Javasche Bank dan uang pendudukan Jepang.

Di samping itu, NICA (Netherlands Indies Civil Administration) memperparah kondisi ini melalui sabotase ekonomi. Mereka menduduki kota-kota besar, menguasai bank peninggalan Jepang, dan mengedarkan Rupiah Jepang secara ilegal.

Akibatnya, tindakan tersebut memicu hiperinflasi parah yang merusak nilai mata uang rakyat. Menyadari bahwa senjata dan diplomasi saja tidak cukup, pemerintah bergerak cepat menyiapkan instrumen keuangan mandiri sebagai bukti kedaulatan negara.

Perjuangan Cetak Gerilya dan Anomali Tanda Tangan

Selanjutnya, Menteri Keuangan A.A. Maramis menyusun rencana penerbitan ORI secara serius sejak November 1945. Para pekerja memulainya dengan memproses pencetakan di Jakarta pada Januari 1946. Namun, agresi Sekutu dan NICA memaksa para pejuang mengungsikan mesin-mesin cetak secara gerilya ke daerah pedalaman, seperti Yogyakarta, Surakarta, Malang, dan Ponorogo.

Peristiwa ini melengkapi lembaran penting dalam sejarah Hari Oeang Republik Indonesia yang penuh perjuangan fisik dan diplomasi. Sementara itu, saat ORI resmi beredar pada 30 Oktober 1946, masyarakat menemukan sebuah anomali.

Lembaran uang memuat tanda tangan A.A. Maramis, padahal jabatan Menteri Keuangan saat itu telah beralih kepada Sjafruddin Prawiranegara. Hal ini terjadi karena para pekerja terlanjur memproduksi pelat visual pertama dengan tanda tangan A.A. Maramis sebelum evakuasi pusat pencetakan.

Peluncuran Resmi dan Makna Simbolis ORI

Pada malam menjelang peredaran ORI tanggal 29 Oktober 1946, Wakil Presiden Mohammad Hatta menegaskan lewat pidato radio bahwa ORI menjadi satu-satunya alat pembayaran sah. Langkah ini sekaligus menonaktifkan uang Jepang dan uang Hindia Belanda di pasar.

Tepat 30 Oktober 1946 pukul 00.00, ORI resmi beredar secara luas. Pemerintah kemudian menetapkan standar awal 1 ORI setara 50 Rupiah Jepang dan mematok nilai tersebut senilai 0,5 gram emas murni.

Secara visual, ORI Seri I rancangan Abdulsalam memuat pesan ideologis yang kuat. Sebagai contoh, pecahan kecil menampilkan gambar keris ligan dan tanduk banteng sebagai simbol kesiapan bela negara. Sementara itu, warna hijau dominan melambangkan tunas muda bangsa yang penuh harapan akan kebebasan finansial.

Kesimpulannya, meskipun para pejuang mencetak uang di atas kertas berkualitas darurat akibat blokade musuh, ORI berhasil menjadi instrumen pemersatu bangsa. Ringkasnya, nilai perjuangan ini terus hidup melalui peringatan Hari Oeang Republik Indonesia setiap tahunnya.

Exit mobile version