Koeno.Id — Bank Indonesia resmi menghentikan peredaran uang kertas Rp5.000 Emisi 1975 pada 2 April 1988. Keputusan moneter ini sekaligus mengakhiri masa edar mata uang ikonik tersebut setelah melayani transaksi selama 13 tahun. Oleh sebab itu, para kolektor numismatik kini mengenalnya sebagai uang legendaris Rp5.000 “Penjala”.
Sejarah dan Filosofi Desain Maritim Repelita II
Pemerintah Orde Baru meluncurkan uang kertas ini pada era pelaksanaan Rencana Pembangunan Lima Tahun Kedua (Repelita II). Pada masa itu, negara memprioritaskan sektor pertanian, pengolahan bahan mentah, dan swasembada pangan.
Selain itu, stabilitas ekonomi yang kuat serta lonjakan penerimaan minyak bumi mendorong bank sentral merilis pecahan besar ini. Menariknya, Bank Indonesia sengaja memilih tema perikanan guna menegaskan arah pembangunan maritim nasional.
Lembaran uang ini mengemban misi khusus untuk menyebarkan pesan kedaulatan ekonomi rakyat ke seluruh pelosok negeri. Dengan demikian, seri emisi 1975 sukses memadukan etos kerja nelayan bersama kepahlawanan Diponegoro serta kemegahan Borobudur.
Detail Ciri Fisik dan Fitur Keamanan
- Sisi Depan (Obverse): Menampilkan sosok nelayan gagah yang sedang menebarkan jala ikan ke laut lepas.
- Sisi Belakang (Reverse): Memperlihatkan tiga armada perahu layar nelayan tradisional Indonesia.
- Spesifikasi & Dimensi: Pabrik Perum Peruri memproduksi uang berukuran 158 x 79 mm ini dengan sentuhan warna cokelat kemerahan.
- Fitur Pengaman: Membawa tanda air (watermark) wajah pahlawan nasional wanita Tjut Njak Dhien.
- Otoritas Resmi: Menampilkan tanda tangan Gubernur BI Rachmat Saleh bersama Direktur Soeksmono B. Martokoesoemo.
Daya Beli Mewah dan Nilai Tukar di Eranya
Pada dekade 1970-an, lembaran Rp5.000 memiliki daya beli yang sangat luar biasa di tengah masyarakat:
- Masyarakat dapat menukarkan selembar uang ini dengan 25 kilogram beras kualitas baik di pasar.
- Bahkan, nominal ini sanggup menutup hampir separuh dari total gaji bulanan pegawai negeri sipil.
Transformasi Menjadi Warisan Numismatik Bernilai Tinggi
Setelah otoritas bank sentral menutup loket penukaran, lembaran bersejarah ini otomatis bertransformasi menjadi aset koleksi berharga. Sebagai hasilnya, antusiasme para kolektor terus mengangkat pamor uang kuno ini di pasar numismatik.
Estimasi Valuasi Pasar Berdasarkan Grade Fisik
- Kondisi Bekas Pakai (Very Fine): Pasar mematok harga transaksi stabil pada rentang ratusan ribu rupiah per lembar.
- Kondisi Prima (Uncirculated): Kolektor berani menebus lembaran sempurna hingga menembus angka jutaan rupiah di balai lelang.
- Varian Langka (Replacement Star): Lembaran dengan seri bintang meraih rekor harga tertinggi akibat kelangkaan unitnya di pasaran.












