Koeno.Id — Penerbitan uang kertas pecahan Rp5.000 Tahun Emisi 1992 menyimpan narasi sejarah yang sangat menarik. Pasalnya, otoritas moneter merancang lembaran mata uang ini sebagai bagian dari strategi diplomasi kebudayaan nasional.
Oleh karena itu, pemilihan gambar utama alat musik tradisional Sasando Rote mengusung misi besar untuk memperkuat integrasi wilayah Indonesia Timur.
Diplomasi Kebudayaan Lewat Instrumen Pembayaran Sah
Awalnya, Bank Indonesia meluncurkan Seri Emisi 1992 dengan mengusung tema keragaman hayati dan warisan budaya Nusantara. Pada saat yang sama, pemerintah melakukan pergeseran fokus kuratorial visual pada dekade tersebut.
Akibatnya, kebijakan visual tidak lagi didominasi oleh gambar pahlawan nasional pada pecahan bernilai menengah. Sebagai gantinya, otoritas moneter secara khusus memilih instrumen etnomusikologi Sasando asal Pulau Rote Nusa Tenggara Timur.
Tentu saja, pemilihan visual ini menjadi langkah diplomasi moneter yang sangat strategis. Melalui kebijakan tersebut, Bank Indonesia berhasil mengenalkan kekayaan seni budaya lokal ke hadapan publik secara masif lewat instrumen pembayaran harian.
Sinergi Narasi Spasial Wilayah Nusa Tenggara Timur
Selain memiliki makna filosofis yang mendalam, perancangan visual uang kertas Rp5.000 Emisi 1992 memadukan dua keajaiban etnografi dan bentang alam lokal secara harmonis:
Sisi Depan (Obverse)
Pertama-tama, sisi muka menampilkan alat musik petik Sasando Rote dengan wadah pemantul suara dari anyaman daun lontar. Selanjutnya, tim desainer memadukan gambar utama tersebut dengan pola dekoratif kain tenun ikat khas Rote.
Sisi Belakang (Reverse)
Di sisi lain, bagian belakang menyempurnakan narasi wilayah dengan menampilkan keindahan pesona alam Danau Tiga Warna Kelimutu Flores. Pada akhirnya, penyatuan dua ikon ini berhasil menciptakan keharmonisan tema kedaerahan Nusa Tenggara Timur secara utuh.
Mahakarya Ketukangan Master Engraver Peruri
Sementara itu, proses translasi sketsa seni Sasando menjadi cetakan berpresisi tinggi dikerjakan oleh maestro engraver Mujirun. Secara cermat, sang pengukir senior Perum Peruri menerapkan teknik ukir pelat logam master secara manual menggunakan burin di bawah mikroskop.
Hasilnya, arsiran garis mikroskopis buatan tangan sang maestro memunculkan efek tekstur timbul pada permukaan kertas serat kapas.
Tidak hanya itu, detail anyaman daun lontar dan dawai Sasando tercetak sangat halus sekaligus menjadi benteng keamanan utama dari ancaman pemalsuan.
Kendati demikian, kini lembaran uang kertas Rp5.000 Emisi 1992 Sasando telah purna tugas dari sirkulasi ekonomi harian. Meskipun layanan penukaran resmi telah berakhir, namun statusnya tetap abadi sebagai komoditas koleksi bersejarah bernilai tinggi di pasar numismatik.












