Koeno.Id — Pemerintah Indonesia menerbitkan uang kertas nominal 2,5 Rupiah Seri Suku Bangsa I pada tahun 1954. Mata uang legendaris ini menyimpan kisah sejarah unik dari tanah Flores, Nusa Tenggara Timur. Sisi depan lembaran tersebut menampilkan sosok petani kelapa bernama Moat Noang asal Desa Wolohuler, Maumere.
Pertemuan Bersejarah di Bandara Waioti
Spontanitas Presiden Soekarno dan Petani Maumere
Awal mula kisah ini berakar dari kunjungan kerja Presiden Soekarno ke Maumere pada tahun 1950. Presiden Soekarno bertemu secara tidak sengaja dengan Moat Noang di dekat Bandara Waioti. Saat itu, Moat Noang sedang menjajakan kelapa muda kepada para pengunjung.
Presiden Soekarno kemudian bertanya mengenai harga satu buah kelapa segar dagangannya. Moat Noang menjawab pertanyaan sang presiden dengan fasih menggunakan bahasa Indonesia. Ia menyebutkan harga satu buah kelapa secara jujur yaitu dua setengah rupiah.
Instruksi Khusus Pembuatan Gambar Uang
Kejujuran dan keramahan petani bersahaja ini sangat memikat hati Presiden Soekarno. Beliau langsung memerintahkan ajudannya untuk mengabadikan potret Moat Noang melalui kamera. Sekembalinya ke Jakarta, Soekarno menyerahkan foto tersebut kepada Menteri Keuangan Dr. Ong Eng Die. Presiden memberi instruksi tegas agar wajah Moat Noang menjadi gambar utama pecahan 2,5 Rupiah.
Eksekusi Seni Cetak Sekuritas dan Nilai Historis
Karya Intaglio Percetakan Kebajoran NV
Tim seniman Percetakan Kebajoran NV mengeksekusi foto Moat Noang menjadi sketsa cetak sekuritas. Perusahaan menggunakan mesin cetak intaglio modern untuk memproduksi uang kertas tersebut. Teknik ini menghasilkan guratan garis wajah Moat Noang dengan efek tekstur timbul yang khas.
Warna merah mendominasi bagian depan uang untuk mengobarkan semangat perjuangan rakyat. Sisi belakang uang menampilkan lambang negara Garuda Pancasila dengan balutan warna hijau.
Simbol Kedaulatan dan Kebanggaan Nasional
Pengabadian sosok Moat Noang mencerminkan konsep dekolonisasi ikonografi keuangan Indonesia. Pemerintah merepresentasikan rakyat kecil dari wilayah timur sebagai pilar utama kedaulatan bangsa.
Kini, uang kertas 2,5 Rupiah emisi 1954 berdiri sebagai artefak numismatik yang sangat berharga. Lembaran bersejarah ini mengabadikan kisah kejujuran rakyat Indonesia di panggung sejarah moneter nasional.
