Koeno.Id – Jagat numismatik Indonesia kembali menyaksikan transaksi seru melalui meja lelang digital resmi. Sebuah rumah lelang terkemuka baru saja menyelesaikan penjualan satu kelompok uang kertas modern. Objek transaksi tersebut merupakan satu gepok uang kertas pecahan Rp50.000 bergambar pahlawan W.R. Supratman emisi tahun 2004.
Lelang online tersebut resmi ditutup setelah menerima penawaran tertinggi dari peserta. Koleksi satu gepok uang Rp50.000 ini terjual seharga Rp4.100.000. Angka penutupan ini melonjak dari harga pembukaan awal (Starting Bid) yang berada di nominal Rp200.000.
Kondisi Fisik Paket Gepokan dan Detail Manifes Barang
Kondisi fisik uang kertas menjadi penentu penting dalam pembentukan harga numismatik. Deskripsi resmi katalog menyebutkan bahwa paket ini memuat total 100 lembar uang kertas urut. Segel pita original Bank Mandiri bertuliskan nominal total Rp5.000.000 masih mengikat paket gepokan ini dengan sangat rapi.
Pihak kurator lelang memberikan rincian kondisi fisik lembaran uang di dalamnya. Sebanyak 3 lembar uang mengantongi predikat About Uncirculated (AU) atau hampir sempurna. Sementara itu, lembaran lainnya berada dalam kondisi Uncirculated (UNC) atau segar murni dari cetakan pabrik.
Detail Spesifikasi Produk & Hasil Lelang Lot 2:
- Nama Resmi Koleksi: Indonesia, Gepok 100 Pcs Urut 50.000 Rupiah Supratman 2004.
- Otoritas Penerbit: Bank Indonesia tahun cetakan emisi 2004.
- Nomor Seri Terlihat: Seri QOQ390800 pada lembar contoh bagian belakang.
- Kondisi Fisik Barang: 3 Pcs AU // Lainnya berstatus UNC.
- Harga Pembukaan Awal: IDR 200.000.
- Harga Ketok Palu Sah: IDR 4.100.000.
- Penyelenggara Lelang: Syailendra Auction.
Edukasi Numismatik: Mengapa Uang Kuno Dijual di Bawah Nominal?
Transaksi Lot 2 ini memberikan pelajaran berharga bagi komunitas numismatis tanah air. Masyarakat umum sering mengira bahwa semua uang lama pasti memiliki harga yang sangat mahal. Fakta pasar menunjukkan bahwa ada kalanya uang lama terjual di bawah nilai nominal aslinya.
Mari kita bedah angka pada transaksi ini secara matematis. Pemenang lelang menebus satu gepok uang ini dengan harga Rp4.100.000. Padahal, nilai total nominal belanja asli dari 100 lembar uang Rp50.000 tersebut adalah Rp5.000.000. Artinya, pembeli mendapatkan paket uang ini di bawah nilai nominal resminya dengan selisih Rp900.000.
Fenomena unik ini lazim terjadi pada uang kertas modern yang sudah ditarik dari sirkulasi harian. Faktor kejenuhan pasar serta melimpahnya kuantitas pasokan (supply) membuat harga koleksi menjadi tertekan. Kolektor pemula wajib memahami bahwa status kondisi UNC tidak menjamin harga sebuah uang akan meroket tinggi. Sisi kelangkaan (rarity) dan tingkat permintaan pasar tetap memegang peranan utama dalam menentukan harga jual sebuah objek numismatik.
