Scroll untuk baca artikel
Merawat Warisan, Menjaga Nilai
Sejarah

Menguak Misteri Dua Bahasa: Alasan Mengapa ‘Roepiah’ dan ‘Gulden’ Berdampingan di Tahun 1948

160
×

Menguak Misteri Dua Bahasa: Alasan Mengapa ‘Roepiah’ dan ‘Gulden’ Berdampingan di Tahun 1948

Sebarkan artikel ini
desain uang kuno 1 rupiah federal III

Koeno.Id – Lembaran uang kuno sering kali menyimpan teka-teki yang jauh lebih mendalam daripada sekadar nilai nominalnya. Salah satu anomali numismatik paling menarik dalam sejarah bangsa Indonesia dapat ditemukan pada uang kertas pecahan 1 Rupiah Emisi 1948 Seri Federal III.

Jika diperhatikan dengan saksama pada sisi depannya, uang kertas cetakan Johan Enschede en Zonen ini mencantumkan dua satuan mata uang yang sangat kontras secara linguistik maupun politis, yakni “SATOE ROEPIAH” dan “EEN GULDEN”. Mengapa dua bahasa dan dua mata uang dari pihak yang bertikai ini bisa bersanding di atas selembar kertas yang sama pada tahun 1948? Jawabannya terletak pada dinamika diplomasi, perang mata uang, dan sebuah kompromi politik yang berjalan sangat menegangkan.

Dampak Perjanjian Renville dan Strategi Moneter Belanda

Latar belakang paling langsung dari terciptanya uang kertas ganda ini adalah penandatanganan Perjanjian Renville pada Januari 1948. Perundingan yang ditengahi oleh PBB di atas kapal perang AS USS Renville tersebut menghasilkan kesepakatan gencatan senjata yang sangat menguntungkan pihak Belanda. Akibat perjanjian ini, wilayah kekuasaan de facto Republik Indonesia menyusut drastis karena pengakuan Garis Van Mook sebagai batas demarkasi baru.

Dengan jatuhnya daerah-daerah kaya sumber daya alam ke tangan efektif mereka, Belanda segera melancarkan strategi federalisasi dengan membentuk negara-negara bagian atau “negara boneka”. Tujuan utamanya adalah mendirikan struktur Republik Indonesia Serikat (RIS) yang diharapkan dapat lebih akomodatif terhadap kepentingan kolonial. Guna menegaskan otoritas moneter di wilayah jajahan baru inilah, De Javasche Bank (DJB) mendesain Seri Federal III. Mata uang ini diproyeksikan menjadi tandingan langsung bagi Oeang Repoeblik Indonesia (ORI) yang telah diedarkan oleh pemerintah pusat di Yogyakarta sebagai simbol kedaulatan nasional.

Kompromi Linguistik dan Alat Propaganda Halus

Keputusan De Javasche Bank untuk mencantumkan nama “Roepiah” berdampingan dengan “Gulden” adalah cerminan paling gamblang dari sebuah kompromi politik yang pragmatis. Pihak Belanda, meskipun ingin memulihkan otoritas keuangannya secara penuh, menyadari betul bahwa mereka tidak bisa lagi menghapus kata “Gulden” begitu saja tanpa memicu resistensi rakyat jelata. Pemerintah Republik Indonesia telah sukses menanamkan nama “Rupiah” sebagai identitas dan simbol kedaulatan ekonomi yang mengakar kuat di benak masyarakat.

Oleh karena itu, dalam kerangka persiapan negara federal RIS yang merupakan hasil kompromi politik, mata uangnya pun didesain menggunakan kedua nama tersebut secara bersamaan. Langkah ini berfungsi sebagai jembatan linguistik yang bertujuan memfasilitasi perdagangan di wilayah-wilayah federal sekaligus menjinakkan sentimen nasionalisme lokal.

Taktik penjinakan ini diperkuat lewat pemilihan gambar tiga pohon kelapa di tepi pantai pada sisi depan uang. Kontras dengan uang ORI yang dengan berani menampilkan gambar Presiden Soekarno atau keris, Belanda sengaja menggunakan citra flora yang netral, idilis, dan apolitis. Melalui visual yang tenang ini, mereka mencoba membangun identitas pan-Nusantara yang tunduk di bawah kendali federal mereka, sekaligus menyingkirkan simbol-simbol perlawanan rakyat. Kesenjangan antara tanggal cetak (1948) dan tanggal edar yang baru terealisasi pada tahun 1950 menjadi bukti sejarah betapa proyek federal ini berjalan penuh ketidakpastian di tengah gempuran perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *