Kabar UtamaSejarah

Mengulas Semiotika Peci Hitam Bung Soekarno pada Vignet Uang Kertas 25 Rupiah Seri ORI II 1947

69
Peci Hitam Bung Sukarno

Koeno.Id — Gambar potret Presiden Soekarno mendominasi tampilan bagian depan Uang Kertas 25 Rupiah Seri ORI II 1947. Tokoh proklamator tersebut tampil berwibawa dengan mengenakan peci hitam pada vignet utama uang kuno ini. Penggunaan peci hitam tersebut menyimpan simbolisme serta pesan politik revolusioner yang sangat kuat.

Peci Hitam Sebagai Simbol Persatuan dan Egalitarianisme

Secara sejarah, Soekarno sengaja merefleksikan identitas kerakyatan melalui atribut peci hitam yang ia kenakan. Peci awalnya merupakan penutup kepala khas kaum buruh dan rakyat jelata Melayu Nusantara.

Selanjutnya, Bung Karno mentransformasikan peci menjadi simbol pemersatu bangsa yang melintasi sekat etnis maupun agama.

Menghapuskan Stratifikasi Sosial Kolonial

Penggunaan peci hitam secara efektif menghapuskan simbol feodalisme kedaerahan seperti blangkon atau penutup kepala kolonial.

Oleh karena itu, penempatan gambar Soekarno berpeci pada mata uang nasional menegaskan egalitarianisme. Pemerintah menyebarkan pesan visual bahwa Republik Indonesia milik seluruh strata masyarakat tanpa terkecuali.

Strategi Komunikasi Politik di Tengah Invasi NICA

Selain makna kesetaraan, vignet Soekarno berpeci menjalankan fungsi komunikasi politik yang sangat strategis. Saat itu, tentara NICA memblokade akses informasi dan menyebarkan mata uang buatan Belanda. Pasalnya, pihak kolonial ingin meruntuhkan legitimasi kepemimpinan Republik Indonesia di mata masyarakat.

Legitimasi Kedaulatan Negara di Akar Rumput

Pemerintah merespons ancaman tersebut dengan mengedarkan Uang Kertas 25 Rupiah Seri ORI II 1947. Kehadiran wujud Sang Proklamator pada uang rakyat secara instan mengonfirmasi otoritas de facto Republik.

Hasilnya, rakyat di pelosok pasar tradisional langsung mengenali dan menyambut sahnya pemerintahan Soekarno.

Warisan Ikonografi Seni Rupa Revolusi Indonesia

Dua maestro seni rupa Abdulsalam dan Oesman Effendi berhasil mengeksekusi pesan kebangsaan tersebut dengan sempurna. Desain ikonik ini membuktikan bahwa selembar uang bukan sekadar alat pembayaran komersial.

Pada akhirnya, Uang Kertas 25 Rupiah Seri ORI II 1947 berdiri sebagai artefak seni yang merekam perjuangan kedaulatan bangsa.

Exit mobile version