Scroll untuk baca artikel
Merawat Warisan, Menjaga Nilai
Kabar UtamaSejarah

Menilik Kembali Transisi Otoritas Moneter Pemerintah ke Bank Indonesia Melalui Uang 1 Rupiah 1964

95
×

Menilik Kembali Transisi Otoritas Moneter Pemerintah ke Bank Indonesia Melalui Uang 1 Rupiah 1964

Sebarkan artikel ini
Uang 1 Rupiah 1964

Koeno.Id – Dunia numismatik menyimpan banyak cerita sejarah. Salah satu artefak paling menarik adalah uang kertas pecahan 1 Rupiah emisi tahun 1964. Uang kuno berseri Soekarno ini bukan sekadar alat tukar yang usang. Lembaran merah coklat ini menjadi saksi bisu transisi besar otoritas moneter di Indonesia.

Masyarakat numismatik mencatat momentum penting melalui penerbitan uang kertas ini. Pemerintah Republik Indonesia resmi mengakhiri masa pencetakan uangnya sendiri melalui emisi 1964. Setelah periode peralihan ini berakhir, Bank Indonesia memegang penuh mandat tunggal sirkulasi mata uang nasional.

Jejak Sejarah Uang Pemerintah Terakhir

Pemerintah menerbitkan uang kertas 1 Rupiah 1964 pada puncak era Demokrasi Terpimpin. Kondisi perekonomian nasional saat itu sedang mengalami gejolak politik dan ekonomi yang sangat hebat. Indonesia menghadapi tantangan inflasi yang sangat tinggi. Selain itu, negara juga sedang menjalankan Konfrontasi militer Dwikora melawan Federasi Malaysia.

Berdasarkan data historis Bank Indonesia, dualisme sirkulasi uang sempat terjadi pada masa awal kemerdekaan. Pemerintah pusat mengedarkan Oeang Republik Indonesia atau ORI. Di sisi lain, Bank Indonesia yang berdiri sejak tahun 1953 juga menerbitkan mata uang bank sentral.

Undang-Undang Pokok Bank Indonesia Nomor 11 Tahun 1953 sebenarnya sudah mengatur pembagian tugas moneter ini. Namun, pemerintah masih memiliki hak menerbitkan uang kertas pecahan kecil di bawah lima Rupiah. Hak khusus tersebut akhirnya resmi berakhir melalui penerbitan seri Soekarno 1964 ini.

Kolaborasi Maestro dan Simbolisme Negara

P.N. Pertjetakan Kebajoran memproduksi uang kertas historis ini dengan standar keamanan yang sangat ketat. Dua seniman terkemuka bangsa, Junalies dan M. Sadjiroen, memimpin langsung proses kreatif pembuatan desainnya. Junalies mengukir potret Presiden Soekarno yang sangat tegas pada bagian muka uang. Sementara itu, M. Sadjiroen menggambar penari wayang orang Srikandi pada sisi belakang kertas.

Desain gambar Srikandi ini membawa pesan propaganda politik yang sangat kuat dari pemerintah. Tokoh pahlawan wanita ini merepresentasikan mobilisasi keberanian rakyat dalam mempertahankan kedaulatan negara. Dari aspek teknis, mereka menerapkan teknologi cetak dalam atau intaglio yang menghasilkan tekstur timbul.

Pemerintah juga menyematkan tanda air bergambar Garuda Pancasila sebagai fitur pengaman utama. Kehadiran tanda air lambang negara ini sekaligus menegaskan identitas resmi kedaulatan moneter Indonesia. Uang kertas ini menjadi penutup riwayat uang darurat pemerintah sebelum pemberlakuan kebijakan sanering pada akhir tahun 1965.

Bagi para kolektor baru, memahami nilai historis transisi moneter ini sangatlah penting. Anda harus selalu fokus pada keaslian fisik dan detail sejarah yang melekat pada uang kuno. Warisan numismatik ini membuktikan bahwa selembar rupiah mampu merekam perjalanan politik dan kemandirian ekonomi sebuah bangsa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *