Koeno.Id – Bank Indonesia menerbitkan uang kertas pecahan Rp5.000 Emisi 1980 dengan konsep visual yang sangat unik. Otoritas moneter sengaja menggeser narasi militer atau potret tokoh politik besar dari lembaran mata uang tersebut. Pemerintah Orde Baru justru memilih gambar rakyat biasa sebagai ikon utama pada uang denominasi tinggi ini. Pilihan desain tersebut tentu mengundang perhatian besar dari para sejarawan ekonomi serta kolektor numismatik nasional.
Secara semiotik, visualisasi pengrajin asah intan mencerminkan arah kebijakan pembangunan ekonomi pada masa pemerintahan Orde Baru. Pemerintah saat itu sedang gencar menekankan pentingnya sektor industri kecil dan pemanfaatan sumber daya alam. Potret tersebut menggeser fokus perhatian publik ke arah apresiasi nyata terhadap kerja keras seluruh rakyat biasa. Negara ingin menunjukkan bahwa kemahiran teknis tradisional mampu menggerakkan roda perekonomian daerah dengan nilai tinggi.
Representasi Produktivitas Massa dan Identitas Lokal
Uang kertas Rp5.000 Emisi 1980 ini berfungsi efektif sebagai media propaganda visual yang sangat strategis. Gambar pengrajin asah intan tradisional merepresentasikan ketangkasan manusia dalam mengolah kekayaan bumi Nusantara. Narasi visual ini merujuk langsung pada industri pengasahan intan legendaris di Martapura, Kalimantan Selatan. Pemerintah memilih subjek pekerja aktif untuk membangun citra masyarakat Indonesia yang produktif, kaku, dan tekun.
Langkah tersebut juga memperkuat identitas kultural daerah agar mendapatkan pengakuan yang setara di tingkat nasional. Kebijakan moneter Orde Baru memang kerap menggunakan desain mata uang untuk memperkenalkan keberagaman industri rakyat. Alih-alih menonjolkan kekuasaan politik sentral, lembaran cokelat klasik ini lebih merayakan kontribusi nyata para pekerja kecil. Fokus narasi ini berhasil mengangkat derajat profesi pengrajin lokal ke dalam media keuangan resmi negara.
Sentuhan Estetika Manual Sang Maestro Peruri
Desainer internal Peruri Albert Roring berhasil menangkap gestur ketelitian sang pengrajin permata secara luar biasa. Beliau mengabadikan fokus tatapan mata dan posisi jemari pekerja menggunakan teknik arsir garis halus yang presisi. Keindahan visual ini berpadu serasi dengan gambar tiga rumah adat Tongkonan Toraja pada sisi belakang. Komposisi tersebut menegaskan keagungan arsitektur tradisional sekaligus keharmonisan sosial masyarakat adat dengan alam sekitar.
Uang kuno seri Asah Intan kini menjadi objek buruan utama dalam ekosistem numismatik kontemporer. Para kolektor sangat mengagumi uang ini karena merekam puncak pencapaian seni rupa sekuritas murni. Status hukum nominalnya memang sudah hangus sejak keputusan penarikan Bank Indonesia keluar pada tahun 1992. Namun nilai sejarah dan pesan sosiokultural Orde Baru tetap melekat kuat pada lembaran klasik tersebut.












