Sejarah

Pengalihan Bahan Baku Koin Logam ke Uang Kertas 1 Sen 1964 Seri Sukarelawan

70
1 Sen 1964 Seri Sukarelawan

Koeno.Id — Pemerintah Indonesia secara berani mengambil keputusan strategis pada puncak era Demokrasi Terpimpin tahun 1964. Secara mendadak, otoritas moneter saat itu resmi menghentikan produksi koin berbahan logam.

Selanjutnya, pemerintah langsung mengalihkan bahan baku tersebut untuk kebutuhan industri manufaktur berat dan logistik pertahanan nasional. Oleh karena itu, Bank Indonesia lantas meluncurkan pecahan 1 Sen 1964 Seri Sukarelawan yang berbahan dasar kertas.

Kebijakan Moneter di Tengah Tekanan Geopolitik

Pada dasarnya, penerbitan uang kertas bernominal sangat kecil ini terjadi di tengah gejolak konfrontasi Dwikora. Sebab, pasokan nikel dan tembaga pada saat itu menjadi sangat terbatas bagi percetakan uang.

Sebagai solusinya, Bank Indonesia menugaskan Perusahaan Negara PN Pertjetakan Kebajoran untuk mencetak uang kertas sub-satuan. Dengan demikian, langkah ini terbukti efektif menekan biaya produksi dan menjamin ketersediaan kembalian di pasar harian.

Karakteristik dan Unsur Keamanan Visual

Jika dilihat secara fisik, lembaran hijau berukuran 103×52 mm ini menyimpan pesan politik yang sangat kuat:

  • Tampak Depan (Obverse): Sisi depan menampilkan gambar relawan petani bertopi caping sebagai simbol propaganda ketahanan pangan rakyat.
  • Tampak Belakang (Reverse): Sementara itu, sisi belakang memuat penegasan pidana bagi siapa saja yang nekat memalsukan uang.
  • Teknik Cetak Sekuritas: Selain itu, percetakan memanfaatkan kerapatan garis ornamen (guilloche pattern) tanpa memasang benang pengaman.

Keunikan Sejarah dan Daya Tarik Kolektor

Meskipun laju hiperinflasi menggerus daya beli pecahan ini dengan cepat, namun status historisnya tetap tidak tergantikan. Bahkan, keunikannya diakui oleh Guinness Book of World Records sebagai salah satu uang kertas bernominal terkecil di dunia.

Namun demikian, kondisi pasokan lembaran reguler di pasar numismatik saat ini terbilang sangat melimpah. Pasalnya, sebagian besar stok uang kertas baru ini tidak sempat tersirkulasi penuh akibat inflasi tinggi.

Walaupun demikian, para kolektor kini lebih aktif berburu variasi nomor seri pengganti. Oleh sebab itu, varian berprefiks huruf “X” (Replacement Note) yang berpopulasi sedikit langsung menjadi target utama pengumpul uang kuno.

Dengan demikian, pengalihan bahan baku logam ke kertas pada pecahan 1 Sen 1964 bukan sekadar solusi krisis. Lebih dari itu, langkah historis ini telah melahirkan salah satu artefak numismatik paling ikonik di Indonesia.

Exit mobile version