Scroll untuk baca artikel
Merawat Warisan, Menjaga Nilai
Kabar UtamaSejarah

Saat Uang 2,5 Rupiah 1961 Jadi Alat Propaganda Kebijakan “Sandang Pangan” Soekarno

69
×

Saat Uang 2,5 Rupiah 1961 Jadi Alat Propaganda Kebijakan “Sandang Pangan” Soekarno

Sebarkan artikel ini
Alat Propaganda Kebijakan

Koeno.Id – Pecahan uang kertas kuno sering menyimpan cerita sejarah yang mendalam, salah satunya adalah uang kertas 2,5 Rupiah tahun 1961 yang populer disebut Seri Sandang Pangan oleh para kolektor. Pemerintah Republik Indonesia merilis mata uang unik ini pada era Demokrasi Terpimpin di bawah kendali penuh Presiden Soekarno.

Otoritas moneter saat itu tidak sekadar memproduksi alat pembayaran yang sah, melainkan sengaja memanfaatkan desain lembaran uang ini sebagai media propaganda visual yang efektif. Tujuannya sangat jelas yaitu mengobarkan semangat nasionalisme sekaligus mengarahkan fokus publik pada cita-cita kemandirian ekonomi bangsa. Setiap lembar kertasnya merangkum dinamika politik masa lalu sehingga para numismatis sangat menghargai narasi historis yang melekat padanya.

Simbol Kemandirian pada Desain Visual

Pemerintah merancang desain visual uang kuno ini secara teliti dengan melibatkan kolaborasi artistik para seniman nasional. Seniman bernama Junalies bertugas menggambar bagian muka uang kertas yang menampilkan seorang petani di tengah kebun jagung. Sementara itu, rekannya bernama M. Sadjiroen melukis bagian belakang uang dengan gambar tanaman padi dan jagung.

Ilustrasi agraris tersebut bukan sekadar ornamen estetika, melainkan simbol nyata dari program prioritas Kabinet Kerja yaitu pemenuhan kebutuhan dasar rakyat secara mandiri. Program strategis ini meneruskan visi Rencana Kasimo tahun 1948 yang berfokus penuh pada swasembada pangan nasional.

Melalui visualisasi tersebut, pemerintah menanamkan ideologi bahwa kemakmuran bangsa harus tercapai lewat produksi dalam negeri dan menolak ketergantungan pada pihak asing. Selain itu, padi dan jagung melambangkan keadilan sosial yang merujuk pada sila kelima Pancasila.

Ironi di Tengah Badai Krisis Moneter

Namun, uang kertas bersejarah ini juga menjadi saksi bisu dari sebuah ironi ekonomi yang memilukan. Penerbitan Seri Sandang Pangan justru berbarengan dengan salah satu krisis moneter terburuk dalam sejarah Indonesia. Demi menutup defisit anggaran belanja yang membengkak, pemerintah saat itu mengambil kebijakan agresif mencetak uang secara masif.

Langkah tersebut memicu badai hiperinflasi hingga mencapai angka 594 persen dan melambungkan harga kebutuhan pokok. Kondisi ini memicu ketegangan mendalam antara visi idealis swasembada pangan yang digembor-gemborkan pemerintah dan realitas memilukan di lapangan. Saat desain uang kertas memamerkan simbol kemakmuran kebun pertanian yang subur, nilai riil uang tersebut justru merosot tajam hampir tak berharga di kantong rakyat.

Di tengah kemerosotan nilai mata uang, pemerintah menerapkan kebijakan devaluasi drastis atau sanering untuk pecahan besar. Menariknya, pecahan kecil seperti 2,5 Rupiah sengaja dikecualikan dari kebijakan sanering ini. Pengecualian tersebut merupakan langkah politis pemerintah guna melindungi sisa daya beli masyarakat kelas bawah yang paling menderita akibat krisis.

Nilai Koleksi Numismatik Masa Kini

Kini, lembaran uang 2,5 Rupiah emisi 1961 yang dahulu dicetak oleh P.T. Pertjetakan Kebajoran telah berubah menjadi buruan utama kolektor. Lembaran yang ditandatangani oleh Menteri Keuangan R.M. Notohamiprodjo ini dilengkapi fitur pengaman autentik berupa cetak timbul intaglio. Tingkat kondisi fisik atau grade seperti Uncirculated (UNC) menjadi penentu utama tingginya nilai koleksi mata uang kuno ini.

Selain diburu oleh para numismatis profesional di balai lelang, uang pecahan ganjil ini juga banyak dicari oleh masyarakat umum. Banyak orang kerap memanfaatkannya sebagai komponen hiasan mahar pernikahan yang unik dan estetik. Pada akhirnya, lembaran kuno ini menjadi dokumen sosial berharga yang merekam ketegangan antara aspirasi kemandirian pangan dan realitas krisis moneter bangsa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *