Koeno.Id — Dinamika politik pascakemerdekaan Indonesia memicu ketidakpastian moneter yang sangat tinggi di berbagai wilayah. Wilayah kepulauan Indonesia sempat mengalami anarki mata uang akibat peredaran berbagai jenis alat pembayaran. Kondisi rumit ini terjadi karena pihak Belanda sengaja mengedarkan uang Gulden NICA secara masif. Otoritas kolonial memakai uang tersebut sebagai senjata untuk merusak stabilitas ekonomi Republik Indonesia.
Agresi Moneter NICA dan Respon Pemerintah
Hiperinflasi Akibat Fragmentasi Mata Uang
Pihak Belanda menggunakan uang koin dan kertas NICA untuk menarik simpati masyarakat di daerah pendudukan. Langkah ini memicu hiperinflasi yang sangat merusak fondasi ekonomi negara yang baru merdeka.
Pemerintah Indonesia kemudian merespons agresi moneter tersebut dengan menerbitkan Oeang Repoeblik Indonesia (ORI). Namun, jalur logistik yang terputus akibat perang memaksa daerah menerbitkan ORI Daerah (ORIDA). Kehadiran ORI, ORIDA, uang Jepang, dan uang NICA akhirnya menciptakan kekacauan nilai tukar.
Kesepakatan KMB dan Lahirnya Uang Tunggal RIS
Titik balik kekacauan moneter ini mulai terjadi setelah perundingan Konferensi Meja Bundar (KMB) selesai. Kesepakatan KMB di Den Haag mengubah bentuk negara secara konstitusional menjadi Republik Indonesia Serikat (RIS).
Pemerintah federal yang baru segera menyadari pentingnya kedaulatan ekonomi melalui unifikasi mata uang tunggal nasional. Menteri Keuangan RIS saat itu kemudian menerbitkan uang kertas pecahan 5 Rupiah emisi tahun 1950. Langkah strategis ini bertujuan untuk menyingkirkan pengaruh uang NICA dan menyatukan seluruh mata uang daerah.
Kebijakan Penarikan dan Keberhasilan Transisi
Unifikasi dan Pemulihan Kepercayaan Pasar
Pemerintah RIS mengeluarkan instruksi tegas untuk menarik peredaran ORI, ORIDA, serta sisa uang peninggalan Belanda. Otoritas moneter menetapkan batas akhir penukaran mata uang lama tersebut hingga tanggal 21 Juni 1950.
Kehadiran fisik uang kertas 5 Rupiah RIS dengan desain elegan terbukti sukses memulihkan kepercayaan pasar. Pemerintah mempercayakan proses produksi uang kertas berkualitas tinggi ini kepada perusahaan Thomas De La Rue di London.
Cetak Intaglio Asing Meredam Uang Tiruan
Kualitas cetakan intaglio yang sangat halus dari Inggris berhasil meredam peredaran uang tiruan lokal. Transisi ini berjalan sukses dan meletakkan dasar kokoh bagi unifikasi moneter Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kini, uang 5 Rupiah RIS berwarna oranye tersebut abadi menjadi buruan utama para kolektor numismatik.












